Malam ini begitu dingin, musim hujan baru saja
datang. Setengah sadar kudengar ada yang mengetuk pintu. Perlahan kubuka pintu
untuk melihat siapa yang datang. Seorang ibu berbaju putih berdiri dengan dua
anaknya. Dia memintaku untuk mengajari kedua anaknya membaca Al-Qur’an.
Tampaknya mereka kembar.
Karena rumahku bersebelahan dengan mushola
langsung saja kuajak mereka kesana. Setelah mengajari mereka aku pun beristirahat
sebentar, meluruskan kaki. Mereka pun pulang. Tak lama terdengar langkah kaki,
ternyata mbah Darmono.
“Tumben shubuh-shubuh mas Arif sudah di
mushola.” Sapanya.
“Eh?” Mataku kukucek melihat jam.
Esoknya badanku masih menggigil. Pikiranku belum
tenang. Badanku kubawa dengan lunglai menuju kamar mandi. Airnya dingin,
sedingin es. Tak lupa kuseduh teh hangat setelah mandi. Kemudian bersiap kuliah
pagi ini.
Di kelas tak ada yang masuk otakku. Pikiranku
tak fokus. Setelah selesai kuliah kulangkahkan kaki menuju perpustakaan. Tak ada
yang menarik. Ku baca di mading ada bazar buku. Di pusat kota.
Sepi. Sudah kuduga bazar buku tak seramai
pameran elektronik maupun gadget terbaru yang rilis perdana. Beberapa buku
kubaca sampul depan dan belakangnya, sambil jongkok.
“Sekarang ini jarang lho ada cowok yang suka
baca buku.” Sapa seorang cewek cantik.
Aku berdiri, masih memegang buku yang tadi.
“Bener banget. Aku ke sini juga cuma cari
kenalan cewek yang suka baca buku.” Candaku.
“Aku ke sini juga cuma cari kenalan cowok yang
cari cewek yang dikiranya suka baca buku.” Balasnya.